Jakarta, CYBERNUSANTARA1.ID – Kebutuhan akan penyelesaian sengketa yang cepat, efektif, dan berorientasi pada solusi semakin menjadi perhatian di tengah pesatnya pertumbuhan investasi dan dinamika dunia usaha.
Menjawab tantangan tersebut, Dewan Sengketa Indonesia (DSI) kembali menyelenggarakan Pelatihan Mediasi DSI Batch 155 yang berlangsung secara daring pada 6–10 Juni 2026.
Pelatihan yang diikuti peserta dari berbagai latar belakang profesi tersebut mendapat perhatian khusus dengan hadirnya Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama, Ph.D., yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Kementerian Investasi (Sahli Kemeninvest).

Kehadiran Prof. Tirta dinilai menjadi sinyal kuat bahwa kompetensi mediasi kini semakin dibutuhkan dalam mendukung iklim investasi yang sehat, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Menurut Prof. Tirta Nugraha Mursitama penyelesaian sengketa melalui mediasi memiliki peran strategis dalam menjaga kepastian berusaha dan meningkatkan kepercayaan investor. Kemampuan tersebut tidak hanya penting bagi praktisi hukum, tetapi juga bagi para pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengambilan keputusan, investasi, dan pembangunan ekonomi.
“Di era globalisasi dan meningkatnya mobilitas investasi, dunia usaha membutuhkan mekanisme penyelesaian sengketa yang tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga mampu menjaga hubungan baik antar pihak dengan cara Mediasi sebagai salah satu instrumen yang sangat relevan,” katanya.
Disisi lain, Mediator yang kompeten mampu menciptakan ruang dialog yang konstruktif sehingga konflik tidak selalu berujung pada proses litigasi yang panjang dan mahal. Pendekatan kolaboratif sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis modern.
Prof. Tirta juga menilai bahwa penguatan kapasitas mediator nasional akan memberikan dampak positif terhadap daya tarik investasi Indonesia di mata dunia.
“Investor pada dasarnya mencari kepastian. Ketika sebuah negara memiliki ekosistem penyelesaian sengketa yang profesional dan kredibel, maka tingkat kepercayaan investor juga akan meningkat. Karena itu, pengembangan kompetensi mediasi merupakan bagian penting dari pembangunan iklim investasi yang kompetitif,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden Dewan Sengketa Indonesia (DSI), Prof. Sabela Gayo, S.H., M.H., Ph.D., CPL., CPCLE., ACIArb., CPM., CPArb., mengatakan bahwa pelatihan mediasi yang diselenggarakan DSI merupakan bagian dari upaya mencetak mediator profesional yang mampu menjawab tantangan dunia usaha dan perkembangan sengketa modern.
“Kami meyakini bahwa mediasi bukan hanya metode penyelesaian sengketa, tetapi juga instrumen penting dalam membangun budaya dialog, kolaborasi, dan perdamaian. Oleh karena itu, peningkatan kualitas mediator harus terus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Prof. Sabela.
Menurutnya, tantangan sengketa saat ini semakin kompleks karena melibatkan berbagai aspek bisnis, investasi, teknologi, hingga hubungan internasional.
“Mediator masa depan harus memiliki kemampuan multidisipliner, memahami aspek hukum, bisnis, komunikasi, dan dinamika sosial. DSI berkomitmen menghadirkan pelatihan yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga memiliki perspektif global,” jelasnya.
Prof. Sabela menambahkan bahwa kehadiran tokoh akademisi dan pejabat strategis seperti Prof. Tirta menjadi nilai tambah dalam memperkaya wawasan peserta.
“Kami sangat mengapresiasi partisipasi Prof. Tirta Nugraha Mursitama dalam Pelatihan Mediasi DSI Batch 155. Kehadiran beliau memberikan perspektif yang sangat penting mengenai keterkaitan antara mediasi, investasi, dan pembangunan ekonomi nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut, DSI berharap para peserta tidak hanya memperoleh sertifikasi, tetapi juga mampu mengimplementasikan keterampilan mediasi dalam berbagai sektor kehidupan, baik bisnis, pemerintahan, pendidikan, maupun masyarakat.
Pelatihan Mediasi DSI Batch 155 menjadi bukti bahwa kebutuhan akan mediator profesional terus meningkat seiring berkembangnya aktivitas ekonomi dan investasi. Dengan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang mediasi, Indonesia diharapkan mampu membangun ekosistem penyelesaian sengketa yang modern, efektif, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.










