KUALA LUMPUR, MALAYSIA — Presiden Dewan Sengketa Indonesia (DSI), Prof. Sabela Gayo, menghadiri rangkaian kegiatan ICC Malaysia Arbitration Day ke-4 yang berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, di Bangunan Sulaiman, Asian International Arbitration Centre (AIAC), Kuala Lumpur, Malaysia.
Kehadiran Prof. Sabela Gayo dalam forum internasional tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan, memperkuat jejaring global, serta meningkatkan kolaborasi dalam pengembangan praktik arbitrase dan penyelesaian sengketa di tingkat internasional.
Kegiatan ICC Malaysia Arbitration Day mempertemukan para praktisi hukum, arbiter, akademisi, pelaku usaha, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membahas perkembangan terkini dalam dunia arbitrase, termasuk tantangan penyelesaian sengketa lintas batas, efektivitas proses arbitrase, dan penguatan standar profesional dalam penyelesaian sengketa internasional.
Prof. Sabela Gayo menilai forum tersebut memiliki nilai strategis karena menjadi ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antara para ahli serta lembaga penyelesaian sengketa dari berbagai negara.
“Kehadiran dalam forum arbitrase internasional seperti ICC Malaysia Arbitration Day merupakan kesempatan penting untuk memperluas perspektif, memperkuat jejaring, dan memahami perkembangan praktik penyelesaian sengketa di tingkat global,” ujar Prof. Sabela Gayo.
Menurutnya, perkembangan hubungan bisnis dan investasi lintas negara turut meningkatkan kebutuhan terhadap mekanisme penyelesaian sengketa yang efektif, independen, profesional, serta mampu memberikan kepastian hukum bagi para pihak.
“Arbitrase memiliki peran yang semakin penting dalam mendukung kepastian hukum, khususnya dalam menghadapi dinamika transaksi dan kerja sama internasional yang terus berkembang,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan kompetensi sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kualitas penyelesaian sengketa di Indonesia. Oleh karena itu, keterlibatan dalam berbagai forum internasional diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pengetahuan dan praktik arbitrase nasional.
“Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari forum internasional perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran bersama, sehingga dapat memperkuat kapasitas praktisi, akademisi, dan lembaga penyelesaian sengketa di Indonesia,” ungkapnya.
Sebagai Presiden DSI, Prof. Sabela Gayo menegaskan komitmen lembaganya untuk terus membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai institusi arbitrase, pusat penyelesaian sengketa, serta jaringan profesional di tingkat regional dan internasional.
“DSI berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan. Kami ingin mendorong lahirnya ekosistem penyelesaian sengketa yang berintegritas, adaptif, profesional, dan berorientasi pada keadilan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Sabela menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan peran dalam pengembangan arbitrase di kawasan Asia. Potensi tersebut perlu didukung oleh peningkatan kompetensi, penguatan kelembagaan, serta perluasan jejaring internasional.
“Indonesia memiliki sumber daya dan potensi yang besar. Melalui peningkatan kapasitas serta kolaborasi internasional, kita dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perkembangan arbitrase di kawasan maupun dunia,” katanya.
Kehadiran Prof. Sabela Gayo pada ICC Malaysia Arbitration Day ke-4 di AIAC Kuala Lumpur diharapkan dapat memperkuat hubungan kelembagaan dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam bidang arbitrase serta penyelesaian sengketa internasional.
Partisipasi tersebut juga menjadi wujud komitmen DSI dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, memperluas akses terhadap pengetahuan global, serta mendukung terwujudnya sistem penyelesaian sengketa yang profesional, kredibel, dan berkeadilan.










