Bandung | CYBERNUSANTARA1.ID – Lantunan shalawat menggema penuh khidmat di wilayah Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Sabtu (14/2/2026). Majelis Ta’lim & Istighotsah Asy Syathiriyyah menggelar Tabligh Akbar dalam rangka menyambut Bulan Suci Ramadan, yang tidak hanya berlangsung khusyuk, tetapi juga sarat nilai edukasi keagamaan dan sosial.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB diawali dengan Imtihan santri sebagai bentuk evaluasi pembelajaran keagamaan. Agenda tersebut menjadi sarana pembinaan generasi muda agar memiliki dasar keilmuan Islam yang kuat. Acara kemudian dilanjutkan dengan tabligh akbar yang menghadirkan sejumlah tokoh agama, di antaranya Habib Abu Bakar bin Husen bin Jindan, Ustaz Ahmad Syatir selaku Pimpinan Pondok Pesantren Asy-Syathiriyyah, serta Ustaz Nihawand S.Ag.

Selain pengajian, panitia bersama majelis taklim setempat juga menggelar bazar UMKM yang melibatkan pelaku usaha kecil di lingkungan RW 07. Kegiatan ini menjadi contoh nyata integrasi dakwah dengan pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus ruang silaturahmi yang memperkuat kohesi sosial warga.
Ketua RW: Ibadah dan Keamanan Harus Berjalan Seiring
Ketua RW 07 Sukahaji, Oman Rohman, mengajak masyarakat menjadikan momentum menjelang Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk memperkuat ibadah sekaligus menjaga keamanan lingkungan. Menurutnya, kehidupan religius yang sehat harus diiringi dengan lingkungan yang aman dan harmonis.
Ia menegaskan bahwa amanah kepemimpinan di tingkat kewilayahan merupakan tanggung jawab kolektif. “Melalui tabligh akbar ini mari kita jaga persatuan warga dan keamanan wilayah agar tetap kondusif,” ujarnya.

Oman juga menekankan bahwa kegiatan keagamaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi sarana pembelajaran nilai-nilai sosial seperti gotong royong, toleransi, serta kepedulian antarwarga.
Tausiah: Fondasi Keimanan Dimulai dari Syukur dan Bakti
Dalam tausiahnya, Habib Abu Bakar menekankan tiga fondasi utama pembentukan karakter muslim, yakni bersyukur kepada Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, dan berbakti kepada kedua orang tua. Ketiganya, menurut beliau, merupakan pilar dasar yang menentukan kualitas keimanan seseorang.
Ia menjelaskan bahwa kemudahan menghadiri majelis ilmu adalah nikmat besar yang patut disyukuri. Majelis seperti ini, katanya, menjadi ruang pembinaan spiritual sekaligus penguatan ukhuwah Islamiyah. Jamaah juga diajak memperbanyak shalawat, istighfar, dan doa sebagai persiapan menyambut Ramadan.

“Ciri anak saleh adalah tidak pernah berhenti mendoakan orang tuanya,” tuturnya, mengingatkan pentingnya pendidikan akhlak dalam keluarga.
Habib Abu Bakar juga meluruskan pemahaman tentang haul dan majelis dzikir, yang bukan sekadar tradisi mengenang tokoh atau orang tua yang telah wafat, melainkan sarana refleksi diri untuk meningkatkan ketakwaan.
Dakwah Kolektif dan Keberlanjutan Pembinaan
Pimpinan Majelis Asy Syathiriyyah, Ustaz Ahmad Syatir, menyebut kegiatan ini sebagai bentuk dakwah kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pengajian menjelang Ramadan berfungsi membangun kesiapan mental dan spiritual agar umat tidak sekadar menjalankan puasa secara ritual, tetapi juga memahami maknanya secara mendalam.
Ia memastikan bahwa kegiatan majelis taklim akan terus berjalan selama Ramadan guna menjaga kesinambungan pembinaan keagamaan warga.

Apresiasi turut disampaikan tokoh agama setempat, Agus Ahmad Taufik. Ia menilai keberhasilan kegiatan ini menunjukkan kuatnya partisipasi masyarakat dalam membangun lingkungan yang religius dan produktif.
Pererat Ukhuwah dan Bangun Lingkungan Religius
Tabligh akbar dan kegiatan sosial pendukungnya diharapkan mampu mempererat hubungan antarwarga, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis menjelang Ramadan.
Lebih dari sekadar perayaan, kegiatan ini menjadi media edukasi spiritual yang menanamkan nilai syukur, cinta Rasul, bakti kepada orang tua, serta kepedulian sosial sebagai bekal memasuki bulan suci dengan kesiapan iman dan amal.










