Hajat Buruan Kampung Cikareo, Warisan Budaya Sunda yang Terus Dijaga dari Generasi ke Generasi

Ragam Berita26 Dilihat
banner 468x60

Kabupaten Bandung Barat | CYBERNUSANTARA1.ID – Semangat kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Kampung Cikareo RW 07, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kembali terlihat dalam pelaksanaan Hajat Buruan atau Hajat Lembur, sebuah tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat, keselamatan, dan keberkahan yang diberikan kepada masyarakat.

Kegiatan yang bertepatan dengan 8 Muharam 1448 Hijriah tahun 2026 tersebut berlangsung meriah dan penuh khidmat. Ratusan warga dari berbagai kalangan tampak memadati lokasi acara yang dihiasi aneka dekorasi khas Sunda, mulai dari rangkaian janur, umbul-umbul tradisional, hingga ornamen budaya yang menambah suasana sakral sekaligus semarak.

Acara ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat setempat dan berbagai unsur kemasyarakatan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut penanggung jawab acara Hj. Eulis Heni, Ketua RW 07 Kampung Cikareo, Ketua Panitia dari Karang Taruna Ade Rohmat, sesepuh kampung Bp Jeje, para tokoh masyarakat, perangkat desa, serta warga Kampung Cikareo yang dengan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

Selain prosesi syukuran lembur, acara juga diisi dengan pengajian dan tausiyah keagamaan yang menghadirkan sejumlah ulama, di antaranya H. Ustadz Rojana, H. Ustadz Agus Sholah, dan Ustadz Deni selaku Ketua Dusun 4 Desa Langensari. Kehadiran para ulama tersebut semakin menambah nilai spiritual dalam pelaksanaan tradisi yang sarat makna tersebut.

Penanggung jawab kegiatan, Hj. Eulis Heni, mengatakan bahwa Hajat Buruan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan menjadi simbol persatuan, gotong royong, dan identitas budaya masyarakat Sunda yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Kegiatan ini rutin kami laksanakan setiap tahun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus momentum mempererat tali silaturahmi antarwarga. Hajat lembur menjadi wadah kebersamaan masyarakat Kampung Cikareo yang selama ini selalu menjaga kekompakan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, pelestarian budaya lokal menjadi tanggung jawab bersama, terutama di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

“Kami berharap tradisi ini jangan sampai hilang atau punah. Generasi muda harus mengenal akar budayanya sendiri, memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, dan ikut menjaga budaya Sunda agar tetap hidup sepanjang masa,” tambahnya.

Ketua Panitia, Ade Rohmat, mengungkapkan bahwa keberhasilan acara tidak lepas dari semangat gotong royong seluruh warga yang sejak jauh hari bahu-membahu mempersiapkan kegiatan.

“Ini bukan hanya acara panitia, tetapi acara seluruh warga Kampung Cikareo. Mulai dari persiapan hingga pelaksanaan, semuanya dilakukan secara bersama-sama. Inilah nilai kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Sunda,” katanya.

Sementara itu, sesepuh kampung Bo Jeje mengingatkan pentingnya menjaga tradisi sebagai bagian dari jati diri masyarakat.

“Budaya adalah warisan yang tidak ternilai harganya. Jika generasi sekarang tidak mau merawatnya, maka suatu saat anak cucu kita hanya akan mendengar cerita tanpa pernah melihat tradisinya secara langsung. Karena itu, budaya Sunda harus terus dipelihara dengan penuh rasa bangga,” tuturnya.

Rangkaian Hajat Buruan tahun ini berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan. Warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, larut dalam kebersamaan yang mencerminkan kuatnya nilai sosial di tengah masyarakat pedesaan.

Tradisi seperti Hajat Buruan tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga sarana memperkuat persatuan, menjaga keharmonisan sosial, dan memperkenalkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan tradisi lokal menjadi benteng penting dalam menjaga identitas bangsa.

Pesan Budaya Sunda

Budaya Sunda mengajarkan nilai-nilai luhur seperti silih asih (saling menyayangi), silih asah (saling memberi pengetahuan), dan silih asuh (saling membimbing). Nilai-nilai tersebut tercermin dalam pelaksanaan Hajat Buruan yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan rasa hormat kepada sesama.

Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat Kampung Cikareo menunjukkan bahwa kemajuan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya. Justru dengan menjaga tradisi dan kearifan lokal, masyarakat dapat membangun masa depan yang lebih kuat tanpa kehilangan identitasnya sebagai bagian dari tanah Sunda yang kaya akan budaya dan nilai-nilai kehidupan.

“Ngamumule budaya Sunda lain ukur ngajaga tradisi, tapi ngajaga jati diri sangkan teu leungit ku jaman.” (Melestarikan budaya Sunda bukan hanya menjaga tradisi, tetapi menjaga identitas agar tidak hilang ditelan zaman).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *