Sanggar Purwakirana Gelar Lomba Tari Jaipongan di Mie Gacoan, Dorong Pelestarian Budaya Sunda

Ragam Berita38 Dilihat
banner 468x60

BANDUNG | CYBERNUSANTARA1.ID — Aan Tuti Karwati atau yang akrab disapa Teh Aan kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni tari tradisional Sunda melalui kegiatan lomba tari yang digelar di Mie Gacoan, Jalan Terusan Pasirkoja, Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Sabtu (11/4/2026).

Sanggar Purwakirana yang berdiri sejak 2018 ini terus berkembang, baik dari jumlah murid maupun aktivitas kesenian. Kegiatan latihan rutin dilaksanakan di kawasan Jalan Holis, tepatnya di Rumah Baso Panghegar, sementara kantor administrasi berada di Jalan Bojong Raya Gang Haji Sanusi, Kota Bandung.

Aan Tuti Karwati

Teh Aan menegaskan bahwa tujuan utama sanggar yang dipimpinnya adalah membudayakan seni tari Jaipongan sebagai warisan khas Sunda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Tujuan kami jelas, ingin membudayakan seni kesenian Sunda, khususnya jaipongan, agar tetap lestari,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2026 ini, perkembangan sanggar menunjukkan peningkatan signifikan. Jumlah murid yang terus bertambah turut berdampak pada peningkatan perekonomian sanggar.

“Alhamdulillah tahun 2026 ini benar-benar meningkat, baik dari jumlah murid maupun dari sisi perekonomian,” tambahnya.

Meski demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan. Selama ini, kegiatan latihan masih mengandalkan tempat sewa. Teh Aan berharap adanya perhatian dari pemerintah agar sanggar seni dapat difasilitasi tempat latihan yang layak dan terjangkau.

“Mudah-mudahan ada perhatian, sehingga sanggar tari seperti kami bisa difasilitasi tempat latihan, tidak selalu harus menyewa,” harapnya.

Dalam hal prestasi, Sanggar Purwakirana telah mencatat berbagai pencapaian, di antaranya meraih piala Wali Kota dan juara pada ajang yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan. Sejumlah alumninya juga telah berkembang menjadi pelatih, asisten, hingga terlibat dalam manajemen seni.

Ibu Yuyun bersama Raani Nur Asyifa

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi wadah pembinaan bagi anak usia dini. Salah satu peserta, Raani Nur Asyifa (4 tahun 3 bulan), menunjukkan perkembangan pesat meski baru dua bulan mengikuti pelatihan.

Orang tua Raani, Yuyun Sundayani, menyebut putrinya memiliki antusiasme tinggi terhadap seni tari.

“Walaupun usianya masih sangat kecil, saya melihat semangatnya luar biasa setiap kali latihan,” ujarnya.

Ia menambahkan, lingkungan latihan yang positif turut mendukung perkembangan anaknya. Untuk mengikuti kegiatan lomba tersebut, ia mengaku membayar biaya sebesar Rp175 ribu.

Sementara itu, juri dari ISBI Bandung, Agus Kandiawan, menilai kualitas peserta dalam kegiatan kali ini mengalami peningkatan dibanding sebelumnya.

“Ini sudah ketiga kalinya saya menilai. Di awal saya sempat menyarankan peserta belum tampil keluar, tapi sekarang sudah terlihat lebih siap dan berkembang,” katanya.

Menurutnya, penilaian didasarkan pada empat aspek utama, yakni wiraga (teknik), wirasa (penghayatan), wirama (irama), dan wirupa (penampilan). Ia juga menekankan pentingnya penguatan teknik dasar, penguasaan panggung, serta pengendalian emosi saat tampil.

“Sudah mulai terlihat mapan, tinggal terus diasah agar ke depan bisa lebih maksimal,” ujarnya.

Di lokasi kegiatan, pihak Mie Gacoan melalui supervisornya menjelaskan bahwa pada dasarnya mereka tidak menyewakan tempat untuk kegiatan. Namun, pengecualian dapat diberikan dengan sejumlah persyaratan.

Penyelenggara diwajibkan melakukan pendaftaran minimal satu minggu sebelum acara, serta memenuhi ketentuan untuk melakukan pembelian produk sebagai bagian dari penggunaan tempat.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian budaya lokal dapat berjalan seiring dengan pembinaan generasi muda yang kreatif, sekaligus memperkuat eksistensi seni tradisional di tengah modernisasi.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *