Bandung, CYBERNUSANTARA1.ID – Perwira TNI Angkatan Udara (TNI AU), Aris Toteles Sufiuddin, resmi menyandang gelar Doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor (SPD) Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad), Rabu (1/7/2026).
Sidang yang digelar di Ruang Sidang Program Pascasarjana FISIP Unpad, Gedung A Lantai 2, Jalan Bukit Dago Utara Nomor 25, Bandung, berlangsung mulai pukul 09.00 WIB. Setelah mempresentasikan hasil penelitian dan menjawab berbagai pertanyaan dari tim promotor, oponen ahli, serta dewan penguji, Aris dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor.
Dalam disertasinya yang berjudul “Kemauan Politik Pimpinan TNI AU untuk Membangun Kesetaraan Gender dalam Penempatan Personel pada Misi Perdamaian Dunia”, Aris mengkaji bagaimana komitmen pimpinan TNI AU dapat menjadi faktor penting dalam membuka kesempatan yang setara bagi prajurit perempuan untuk terlibat dalam misi perdamaian internasional.
Sebelum sidang dilaksanakan, FISIP Unpad melalui Dekan Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri telah mengirimkan surat resmi kepada Panglima Kogabwilhan III guna memohon izin bagi Aris mengikuti Sidang Promosi Doktor. Permohonan tersebut tertuang dalam Surat Nomor 10305/UN6.G/PK.03.09/2026 tertanggal 25 Juni 2026.
Sidang dipimpin langsung oleh Dekan FISIP Unpad, Prof. Dr. Mohammad Benny Alexandri, selaku Ketua Sidang, didampingi Ari Ganjar Herdiansah, S.Sos., M.Si., Ph.D. sebagai Sekretaris Sidang sekaligus Ketua Promotor bersama jajaran promotor, guru besar, dan oponen ahli.
Gelar Doktor Menjadi Awal Pengabdian
Usai dinyatakan lulus, Aris mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
“Alhamdulillah, segala puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan studi doktoral ini dengan baik. Saya menyampaikan terima kasih kepada keluarga, para promotor, dosen penguji, Universitas Padjadjaran, serta pimpinan TNI Angkatan Udara yang telah memberikan dukungan selama proses pendidikan ini,” ujarnya.
Menurut Aris, gelar doktor bukanlah tujuan akhir, melainkan amanah untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan demi kepentingan institusi, bangsa, dan negara.
“Saya berharap hasil penelitian ini dapat menjadi masukan konstruktif bagi pengembangan kebijakan organisasi sehingga semakin banyak personel memiliki kesempatan mengabdi dalam misi perdamaian internasional secara profesional dan berkeadilan.”
Ia juga mengajak seluruh prajurit untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan.
“Sebagai prajurit, saya meyakini ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan pengabdian. Semoga capaian ini menjadi motivasi bagi seluruh prajurit untuk terus belajar, meningkatkan kompetensi, dan memberikan pengabdian terbaik kepada TNI Angkatan Udara serta Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Prof. Connie Bakrie: Penelitian Ini Layak Menjadi Dasar Perubahan Doktrin
Pengamat pertahanan Prof. Connie Rahakundini Bakrie, yang turut menjadi informan dalam penelitian tersebut, menilai disertasi Aris sebagai langkah berani karena mengangkat isu kesetaraan gender di lingkungan militer ketika masih aktif sebagai prajurit.
“Ini sangat membanggakan. Beliau masih aktif sebagai prajurit, seorang laki-laki, tetapi justru mendorong isu gender. Penelitian ini sangat mendalam, jujur, dan saya yakin tidak mudah dilakukan,” kata Connie.
Menurutnya, hasil penelitian tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai karya akademik, melainkan menjadi dasar pembaruan kebijakan di lingkungan TNI.
“Saya berharap penelitian ini menjadi bagian dari doktrin sehingga benar-benar terjadi perubahan. Indonesia membutuhkan militer yang semakin profesional, dan perubahan itu bisa dimulai dari penelitian ini.”
Connie juga mendorong agar hasil disertasi tersebut disampaikan kepada Komisi I DPR RI dan Kementerian Pertahanan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pertahanan nasional.
DPR Nilai Hadirkan Perspektif Baru
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI, Neti, menilai penelitian Aris menghadirkan perspektif baru mengenai kesetaraan gender di lingkungan militer.
Menurutnya, isu perempuan selama ini umumnya diperjuangkan oleh kaum perempuan sendiri. Namun, Aris sebagai seorang prajurit laki-laki justru mengangkat pentingnya pemberian kesempatan yang setara bagi prajurit perempuan berdasarkan kompetensi dan profesionalisme.
Neti menilai pendekatan yang lebih humanis melalui keterlibatan perempuan dalam misi perdamaian dunia dapat memperkuat peran Indonesia di tingkat internasional, khususnya dalam membangun komunikasi, empati, dan pendekatan persuasif di wilayah konflik.
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata di lingkungan TNI AU maupun pemerintah, serta disampaikan kepada Komisi I DPR RI sebagai mitra kerja Kementerian Pertahanan dan TNI.
Menurutnya, kekuatan suatu bangsa tidak hanya diukur dari kemampuan pertahanannya, tetapi juga dari sejauh mana negara memberikan kesempatan yang adil kepada seluruh warganya, termasuk perempuan, untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan profesionalismenya.
Keberhasilan Aris Toteles Sufiuddin meraih gelar Doktor diharapkan tidak hanya menjadi prestasi akademik pribadi, tetapi juga menjadi kontribusi ilmiah bagi pengembangan kebijakan kesetaraan gender di lingkungan TNI Angkatan Udara serta memperkuat peran Indonesia dalam misi perdamaian dunia.










