Kabupaten Bandung Barat,, CYBERNUSANTARA1.ID — Untuk pertama kalinya, Desa Campaka Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, merayakan hari jadi atau milangkala secara resmi pada Sabtu (5/7/2025). Meski usia desa telah mencapai 46 tahun, baru tahun ini peringatan tersebut digelar, setelah data sejarah dan pendiri desa berhasil dikumpulkan.
Kepala Desa Campaka Mekar, Agus Restiawan, mengungkapkan bahwa milangkala ke-46 ini menjadi momen penting untuk mengenang dan menghormati jasa para pendiri serta mantan kepala desa yang telah membangun dan memimpin desa sejak awal berdiri.
“Ini ulang tahun pertama yang kami rayakan meskipun sebenarnya sudah ke-46, karena baru tahun ini kami mengetahui data lengkap sejarah desa, termasuk siapa pendirinya,” jelas Agus, Sabtu 5 Juli 2025.
Perayaan dilakukan secara sederhana namun khidmat. Kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng, takziah dan doa bersama untuk para mantan kepala desa, serta lomba tumpeng yang diikuti oleh seluruh LKD dan RW se-Desa Campaka Mekar. Sementara acara hiburan utama seperti pagelaran wayang golek rencananya akan digelar pada 3 September 2025 mendatang, dipimpin oleh dalang ternama, Dadan Sunandar Sunarya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Rustiawan juga menyebutkan para tokoh yang pernah menjabat sebagai kepala desa, yaitu:
1. Bapak Aning Kurma (Kades pertama, menjabat sekitar 1979),
2. Haji Momo,
3. H. Ujang Sukanda,
4. Yudi Suhaedi,
5. Asep Yusuf Bakti.
Semua tokoh tersebut dikunjungi untuk didoakan sebagai bentuk rasa terima kasih atas pengabdian mereka.
Salah satu momen bersejarah dalam milangkala ini adalah kehadiran Bupati Bandung Barat, yang turut memotong tumpeng sebagai bentuk apresiasi atas semangat warga dalam melestarikan sejarah dan membangun kebersamaan.
Kini, dari sembilan pendiri desa, hanya Bapak Slamet yang masih hidup. Delapan tokoh lainnya telah wafat. Kepala Desa berharap kegiatan ini menjadi tradisi tahunan untuk memperkuat identitas, mempererat persatuan warga, serta menjadi pengingat akan pentingnya sejarah dan gotong royong.
“Harapan kami, acara ini bisa menjadi adat dan budaya di Campaka Mekar, agar generasi muda tahu asal-usul desa dan terus membangun bersama,” pungkas Agus.
(Jay k)











