BANDUNG | CYBERNUSANTARA1.ID — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Indonesia di kancah internasional. Czeresna Alwaan Suyanto, siswa kelas XII SMAN 8 Bandung, berhasil meraih medali perak dalam ajang Hong Kong International Mathematical Olympiad (HKIMO) Final Round 2026 yang berlangsung di Hong Kong, 22 Agustus 2026.
Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi Czeresna yang sejak bangku sekolah menengah pertama telah menekuni kompetisi matematika hingga mampu bersaing dengan peserta dari berbagai negara.
Czeresna merupakan putra kedua dari pasangan Dedi Suyanto dan Lira Masri. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar kelas XII, remaja berusia 18 tahun tersebut memiliki cita-cita untuk melanjutkan pendidikan dan menjadi dokter. Di luar aktivitas akademik, ia juga memiliki hobi mendengarkan musik.

Perjalanan Czeresna menuju kompetisi internasional tidak berlangsung secara instan. Ketika masih bersekolah di SMP Darul Hikam, ia mengikuti tahapan kualifikasi HKIMO dan berhasil lolos untuk menjadi peserta kompetisi.
Pada kesempatan tersebut, Czeresna mampu menunjukkan kemampuan matematikanya dan meraih medali perak. Prestasi itu kemudian menjadi motivasi baginya untuk terus mengembangkan kemampuan akademik.
Memasuki jenjang SMA, Czeresna kembali mengikuti tes kualifikasi HKIMO. Kerja keras dan konsistensinya kembali membuahkan hasil. Ia berhasil lolos sebagai salah satu perwakilan Indonesia untuk mengikuti babak final di Hong Kong.
Dalam Final Round HKIMO 2026, Czeresna tampil sebagai perwakilan Kota Bandung sekaligus Indonesia pada kategori Senior Secondary. Persaingan berlangsung dengan peserta yang datang dari berbagai negara.
Hasilnya, Czeresna kembali berhasil mengukir prestasi dengan membawa pulang medali perak.
“Dengan meraih medali perak ini tentunya saya sangat senang dan bangga bisa mewakili Indonesia lagi di kompetisi Hong Kong International Mathematical Olympiad,” ujar Czeresna.
Menurutnya, pencapaian tersebut bukan hanya mengenai sebuah medali, tetapi juga menjadi pengalaman berharga untuk menghadapi masa depan.
Ia berharap sertifikat dan prestasi yang diraihnya dapat menjadi bagian dari perjalanan pendidikan untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi.
“Harapannya, dengan sertifikat ini bisa membawa aku ke masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Matematika Menjadi Tantangan Sekaligus Pembelajaran
Czeresna mengakui bahwa matematika bukan pelajaran yang selalu mudah. Namun, justru tantangan tersebut membuatnya semakin tertarik untuk mempelajarinya.
“Menurut aku matematika susah-susah gampang. Yang jelas, apa pun bisa digapai kalau kita mau belajar. Menurut aku matematika lebih menantang,” katanya.
Pandangan tersebut menjadi pesan edukatif bagi pelajar lainnya bahwa kemampuan tidak semata-mata ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh kemauan untuk belajar, berlatih dan menghadapi kesulitan.
Lira Masri: Prestasi Anak Harus Menjadi Motivasi untuk Terus Belajar
Sementara itu, Lira Masri, ibu Czeresna, mengaku sangat bangga atas pencapaian putranya yang kembali mampu mengharumkan nama Indonesia di kompetisi matematika tingkat internasional.
Menurut Lira, medali perak yang diraih Czeresna merupakan hasil dari proses panjang, mulai dari mengikuti seleksi, belajar, berlatih hingga berani berkompetisi dengan pelajar dari berbagai negara.
“Sebagai orang tua tentu kami sangat bangga dan bersyukur melihat Czeresna bisa kembali mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia. Bagi kami, bukan hanya medalinya yang penting, tetapi proses perjuangan dan keberaniannya untuk terus belajar,” ujar Lira.
Lira berharap prestasi tersebut tidak membuat putrinya cepat berpuas diri. Sebaliknya, penghargaan itu diharapkan menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan dan mengejar cita-cita.
“Kami selalu berpesan agar Czeresna tetap rendah hati. Prestasi hari ini bukan akhir, tetapi menjadi langkah untuk belajar lebih banyak dan menghadapi tantangan berikutnya,” katanya.
Ia juga mengingatkan para pelajar agar tidak takut terhadap pelajaran yang dianggap sulit.
“Jangan langsung mengatakan tidak bisa hanya karena sebuah pelajaran terasa sulit. Belajar itu memang membutuhkan proses. Kalau mau berusaha, bertanya, berlatih dan tidak mudah menyerah, insyaallah akan ada hasilnya,” tutur Lira.
Menurutnya, dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Orang tua, kata dia, bukan hanya memberikan fasilitas, tetapi juga harus memberikan motivasi dan ruang bagi anak untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
“Setiap anak mempunyai kelebihan masing-masing. Tugas orang tua adalah mendampingi, memberikan semangat dan mengarahkan agar potensi tersebut bisa berkembang dengan baik,” ucapnya.
Lira berharap pengalaman Czeresna mengikuti kompetisi internasional dapat menjadi bekal berharga, baik dalam pendidikan maupun kehidupan sosialnya.
“Kami berharap Czeresna tetap fokus menyelesaikan pendidikannya, terus mengejar cita-cita menjadi dokter dan tidak melupakan nilai-nilai disiplin, kerja keras serta rendah hati. Semoga prestasinya juga bisa menginspirasi teman-teman seusianya untuk berani bermimpi dan berusaha mewujudkannya,” pungkas Lira.
Prestasi yang Layak Menjadi Inspirasi
Prestasi Czeresna Alwaan Suyanto di HKIMO Final Round 2026 menjadi contoh bahwa kesempatan berkompetisi di tingkat internasional dapat lahir dari proses yang panjang dan konsisten.
Dari bangku SMP hingga SMA, Czeresna menunjukkan bahwa keberhasilan membutuhkan keberanian mengikuti seleksi, kesungguhan dalam belajar serta kemampuan untuk terus memperbaiki diri.
Medali perak yang diraihnya bukan sekadar penghargaan akademik, tetapi juga menjadi pesan bahwa generasi muda Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional ketika diberikan kesempatan, pembinaan dan dukungan yang tepat.
Semangat Czeresna untuk terus belajar dan cita-citanya menjadi dokter diharapkan menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya untuk tidak takut menghadapi tantangan serta terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
















