JEMBER | CYBERNUSANTARA1.ID — Alun-Alun Jember dipenuhi suasana religius dan kebersamaan pada Sabtu (22/8) malam. Ribuan masyarakat berkumpul mengikuti malam puncak gelaran budaya 867 Ancak Agung, yang berlangsung dalam balutan doa, lantunan sholawat, serta pesan-pesan persaudaraan.
Kehadiran para ulama, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai lapisan menjadikan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda kebudayaan. Momentum itu sekaligus menjadi ruang bersama untuk memperkuat silaturahmi, menjaga tradisi, serta meneguhkan semangat kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai keagamaan.
Rangkaian Ancak Agung yang digelar bertepatan dengan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW dan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia dinilai memiliki makna strategis bagi kehidupan sosial masyarakat Jember. Tradisi lokal dipertemukan dengan nilai religius dan semangat nasionalisme sehingga menjadi sarana untuk merawat persatuan di tengah keberagaman.
Bupati Jember Muhammad Fawait menilai peringatan tersebut menjadi kesempatan penting untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Menurutnya, kebersamaan yang tercipta dalam rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang tidak seharusnya menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan dan menjaga keutuhan masyarakat.
“Alhamdulillah, setelah rangkaian Ancak Agung Jember yang penuh makna, malam harinya suasana semakin istimewa dengan kehadiran KHR. Muhammad Kholil As’ad di Alun-Alun Jember. Bersama-sama bersholawat, memperkuat silaturahmi, serta menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW,” ujar Gus Fawait.
Ia menegaskan, keteladanan Nabi Muhammad SAW memiliki relevansi kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai akhlak, toleransi, kepedulian, dan perdamaian menjadi fondasi penting dalam membangun daerah yang harmonis.
Bagi pemerintah daerah, pelestarian tradisi bukan semata-mata mempertahankan sebuah warisan budaya. Lebih dari itu, tradisi dapat menjadi media pendidikan sosial bagi generasi muda agar memahami akar budaya, menghargai keberagaman, serta memiliki rasa tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.
Dalam perspektif kenegarawanan, nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat. Kecintaan terhadap daerah dan budaya lokal perlu berjalan beriringan dengan komitmen menjaga persatuan Indonesia.
Karena itu, momentum Maulid Nabi dan peringatan kemerdekaan diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Pesan moralnya perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari melalui sikap saling menghormati, gotong royong, menjaga kedamaian, serta mengutamakan kepentingan masyarakat.
“Mari terus rawat tradisi, jaga kebersamaan, dan teladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari,” kata Gus Fawait.
Semangat yang terpancar dari malam puncak Ancak Agung 867 tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa kebudayaan, agama, dan nasionalisme dapat berjalan berdampingan. Ketiganya menjadi kekuatan sosial yang dapat memperkokoh persaudaraan sekaligus mengangkat marwah Jember sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai tradisi, religiusitas, dan persatuan.










