IKN Tidak Hanya Harus Indah, tetapi Harus Aman dan Dapat Dioperasikan

Opini13 Dilihat
banner 468x60

Maret Samuel Sueken

Ketua Umum Jaringan Pendamping Kebijakan Pembangunan (JPKP)

Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang dirancang menjadi wajah baru Indonesia di masa depan. Konsep kota hijau (green city), kota cerdas (smart city), serta penerapan sistem utilitas bawah tanah melalui Multi Utility Tunnel (MUT) dan Single Utility Tunnel (SUT) menjadi langkah progresif yang patut diapresiasi.

Namun, keberhasilan sebuah kota modern tidak cukup hanya diukur dari kemegahan desain dan kecanggihan teknologinya. Infrastruktur yang dibangun juga harus memenuhi prinsip keselamatan, keandalan, kemudahan operasional, kemudahan pemeliharaan, serta kemampuan untuk pulih dengan cepat apabila terjadi gangguan.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberhasilan pembangunan IKN, saya melakukan peninjauan lapangan pada 13 Juni 2026 ke sejumlah lokasi strategis infrastruktur kelistrikan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN. Dari hasil peninjauan tersebut, terdapat beberapa kondisi yang menurut saya perlu segera mendapat perhatian agar penyempurnaan dapat dilakukan sejak dini.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan ataupun menyalahkan pihak tertentu. Sebaliknya, masukan ini merupakan bagian dari dukungan konstruktif agar IKN benar-benar menjadi contoh pembangunan infrastruktur modern yang aman, andal, dan berkelanjutan.

MUT Harus Dipandang sebagai Infrastruktur Kritis

Multi Utility Tunnel (MUT) merupakan koridor utilitas bersama yang menampung berbagai jaringan vital, mulai dari distribusi tenaga listrik tegangan menengah 20 kV, jaringan telekomunikasi, air bersih, air limbah, hingga utilitas lainnya.

Saat melakukan peninjauan lapangan, saya menemukan adanya genangan air dan endapan lumpur pada beberapa segmen MUT. Bahkan, di sejumlah titik, air dan lumpur telah mencapai permukaan lantai akses koridor. Dengan kedalaman sekitar empat meter, kondisi tersebut mengindikasikan sebagian koridor berada dalam keadaan tergenang.

Menurut saya, kondisi ini perlu segera menjadi perhatian serius karena bukan hanya berpotensi menghambat pekerjaan instalasi kelistrikan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko keselamatan bagi seluruh operator utilitas yang bekerja di dalam koridor tersebut.

Keberadaan jaringan listrik tegangan menengah 20 kV di dalam MUT memiliki tingkat risiko tinggi apabila terjadi gangguan, terlebih jika dikombinasikan dengan kondisi lingkungan yang tergenang air atau berlumpur.

Petugas PLN telah dibekali prosedur keselamatan kerja yang ketat. Namun, koridor MUT juga digunakan oleh personel utilitas lain, seperti operator telekomunikasi, air bersih, maupun air limbah. Tanpa sistem pengendalian akses yang terintegrasi, potensi risiko kecelakaan kerja dapat meningkat apabila terdapat gangguan pada instalasi kelistrikan.

Oleh karena itu, saya berpandangan bahwa MUT seharusnya diperlakukan sebagai Critical Utility Infrastructure yang dikelola melalui Integrated Utility Safety Management System, meliputi mekanisme izin masuk, koordinasi lintas operator, pemantauan kondisi utilitas secara real time, prosedur tanggap darurat bersama, serta pengendalian keselamatan sebelum personel memasuki koridor.

Dengan pendekatan tersebut, tujuan utamanya bukan hanya menjaga keandalan infrastruktur, tetapi juga melindungi keselamatan setiap pekerja dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja maupun korban jiwa.

Akses Gardu Induk Harus Menjadi Prioritas

Temuan lain yang menurut saya tidak kalah penting adalah kondisi akses menuju beberapa Gardu Induk (GI) dan Gardu Hubung (GH) di kawasan inti pemerintahan.

Pada salah satu lokasi, saya harus melewati pagar pembatas jalan utama dan berjalan melalui area yang telah ditumbuhi semak untuk mencapai gardu. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses menuju infrastruktur kelistrikan strategis masih memerlukan penyempurnaan.

Saya menegaskan bahwa persoalan ini bukan merupakan isu operasional PT PLN (Persero), melainkan berkaitan dengan bagaimana kebutuhan infrastruktur utilitas telah diintegrasikan dalam perencanaan kawasan sejak tahap desain.

Dalam dunia rekayasa, terdapat empat prinsip utama yang harus menjadi perhatian, yaitu accessibility, constructibility, maintainability, dan operability. Keempat prinsip tersebut menjadi fondasi dalam membangun infrastruktur modern yang aman, efisien, dan berkelanjutan.

Apabila akses menuju Gardu Induk maupun Gardu Hubung tidak memadai, maka proses inspeksi, pemeliharaan, penggantian peralatan, hingga pemulihan sistem ketika terjadi gangguan akan menjadi lebih lambat dan berpotensi memengaruhi keandalan pasokan listrik bagi fasilitas-fasilitas strategis negara.

Momentum Menyempurnakan Pembangunan IKN

Saya memandang berbagai temuan tersebut sebagai momentum untuk melakukan penyempurnaan sebelum seluruh kawasan IKN beroperasi secara penuh.

Masih terbukanya ruang evaluasi merupakan kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi potensi risiko sejak dini sehingga dapat dilakukan langkah perbaikan yang tepat.

JPKP merekomendasikan beberapa langkah, antara lain melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase MUT, membangun sistem keselamatan lintas utilitas, memastikan akses permanen menuju Gardu Induk dan Gardu Hubung, mengevaluasi kembali aspek accessibility, constructibility, maintainability, dan operability, serta memperkuat koordinasi lintas instansi dalam pengelolaan utilitas bawah tanah.

Saya meyakini bahwa masukan seperti ini merupakan bentuk dukungan terhadap keberhasilan pembangunan IKN. Harapan kita bersama adalah agar berbagai potensi risiko dapat dikenali dan diselesaikan sebelum menimbulkan kecelakaan maupun gangguan yang lebih besar.

IKN merupakan warisan besar bangsa Indonesia. Karena itu, keberhasilannya harus dijaga bersama. Kritik yang konstruktif bukanlah bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan wujud tanggung jawab bersama agar IKN tidak hanya menjadi kota yang indah dipandang, tetapi juga menjadi kota yang aman, andal, mudah dioperasikan, mudah dipelihara, serta mampu melayani penyelenggaraan pemerintahan dan masyarakat secara berkelanjutan selama puluhan tahun ke depan.

Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan opini penulis. Isi dan pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis serta tidak selalu mencerminkan sikap atau kebijakan redaksi.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *