Kirab Mahkota Binokasih 2026 Angkat Marwah Budaya Sunda ke Tingkat Nasional dan Internasional

BERITA UTAMA120 Dilihat
banner 468x60

Bandung | CYBERNUSANTARA1.ID – Semangat pelestarian sejarah dan budaya Sunda kembali menggema melalui gelaran Kirab Mahkota Binokasih Sanghyang Pake tahun 2026 yang berlangsung meriah di Kota Bandung, Sabtu malam (16/5/2026).

Kegiatan budaya yang menjadi bagian dari rangkaian Milangkala Tatar Sunda “Mulang Ka Salaka” ini dinilai tidak hanya mengangkat nama Sumedang dan sejarah Kerajaan Sumedang Larang, tetapi juga membawa identitas budaya Jawa Barat ke panggung nasional hingga internasional.

Tokoh budaya sekaligus Mantri Luar Karaton Sumedang Larang, Rd Asep Sulaiman Fadil Adiwinata, menyampaikan bahwa kirab tahunan tersebut merupakan momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, budaya, dan filosofi Sunda di tengah perkembangan zaman modern.

Menurutnya, pelaksanaan kirab setiap bulan April berkaitan erat dengan sejarah penyerahan Mahkota Binokasih dari Kerajaan Pajajaran kepada Kerajaan Sumedang Larang pada Jumat, 22 April 1578, yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Peristiwa bersejarah itu terjadi ketika Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Kusumahdinata I atau Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante utusan Pajajaran di Kutamaya, Sumedang. Penyerahan Mahkota Binokasih beserta atribut kerajaan lainnya menjadi simbol estafet kekuasaan dan keberlanjutan peradaban Sunda dari Pajajaran kepada Sumedang Larang.

Dalam catatan sejarah Sunda, mahkota tersebut merupakan peninggalan penting yang dibuat pada masa Prabu Bunisora dan kemudian diwariskan sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sunda.

“Kirab Mahkota Binokasih bukan sekadar seremoni budaya, tetapi menjadi pengingat sejarah panjang peradaban Sunda yang harus dipahami generasi muda,” ujar Rd Asep Sulaiman Fadil Adiwinata dalam keterangannya, Minggu 17 Mei 2026.

Rangkaian Kirab Mahkota Binokasih 2026 dimulai dari Sumedang dan melintasi sejumlah wilayah bersejarah di Jawa Barat, di antaranya Ciamis melalui Situs Kawali, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bogor, Karawang, hingga Cirebon sebelum berakhir di Bandung.

Perjalanan budaya tersebut disebut sebagai napak tilas sejarah Pajajaran dan jejak spiritual “Tapak Wangi Siliwangi” yang sarat nilai historis dan filosofi Sunda.

Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan ini dinilai sangat tinggi. Ribuan warga memadati jalur kirab dan pertunjukan seni budaya yang menampilkan berbagai kesenian tradisional Sunda, mulai dari pencak silat, musik tradisional, hingga parade adat khas daerah.

Rd Asep menilai keberhasilan pelaksanaan kirab tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari keturunan Kerajaan Sumedang Larang, tokoh masyarakat, budayawan, hingga dukungan pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dedi Mulyadi yang dinilai memiliki perhatian besar terhadap pelestarian seni dan budaya Sunda.

Selain sebagai agenda budaya, kegiatan kirab diyakini mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Jawa Barat. Kehadiran wisatawan domestik maupun mancanegara diharapkan dapat meningkatkan geliat ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sunda secara lebih luas.

“Budaya adalah investasi jangka panjang. Ketika seni dan sejarah dijaga, maka identitas daerah akan semakin kuat dan mampu menjadi daya tarik dunia,” ungkapnya.

Ia berharap semangat filosofi Sumedang Larang yang diwariskan Prabu Tajimalela, yakni “Insun Medal Insun Madangan” atau “Saya lahir untuk memberi penerangan”, dapat terus menjadi inspirasi dalam membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, budaya, dan akhlak mulia.

Kirab Mahkota Binokasih 2026 pun menjadi bukti bahwa warisan budaya Sunda tetap hidup, berkembang, dan mampu menyatukan masyarakat lintas generasi dalam semangat menjaga jati diri bangsa Indonesia.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *