Jurnalis: Penjaga Nurani Bangsa di Tengah Gempuran Digital dan Kepentingan

banner 468x60

Ngawi, CYBERNUSANTARA1.ID – “Menjadi jurnalis itu keren, tapi juga berat.” Kalimat itu dilontarkan Tri Sofyan, C.BJ., C.EJ., C.Par., Wakil Pimpinan Redaksi Kontrolnews.co, dalam sebuah diskusi reflektif mengenai peran dan tantangan wartawan masa kini, Kamis (17/7/2025).

Sofyan tak hanya bicara soal teknis kepenulisan, tapi menyoroti filosofi jurnalisme sebagai profesi yang sarat akan tanggung jawab moral dan sosial.

Menurutnya, jurnalis bukan sekadar penulis berita, tapi penjaga nurani bangsa yang wajib menjunjung tinggi integritas, etika, dan keberpihakan pada kebenaran.

“Jurnalis bisa nulis apa aja, tapi nggak semua harus ditulis. Kebebasan itu hak, tapi di baliknya ada tanggung jawab yang nggak kecil,” tegas Sofyan.

Dalam era digital yang penuh distraksi, di mana kecepatan sering mengalahkan akurasi dan popularitas menyingkirkan integritas, Sofyan mengingatkan agar jurnalis tidak tergelincir menjadi buzzer atau corong kekuasaan.

“Kita bukan buzzer, kita bukan penyambung lidah pesanan. Kita jurnalis. Kita nyari fakta, bukan drama,” tandasnya.

Ia menyentil keras media yang kini terseret arus kapitalisasi konten, mengejar klik dan rating, hingga kehilangan idealisme.

Menurutnya, tulisan jurnalis bisa membentuk opini publik yang mencerahkan, tapi juga bisa memecah belah jika tidak dilandasi nurani dan tanggung jawab.

“Kenapa tulisan jurnalis lebih tajam dari senjata? Karena ia bisa memotong kebenaran, menciptakan saksi-saksi dusta, atau justru jadi cahaya yang menerangi kebutaan publik,” ujar Sofyan penuh keprihatinan.

Sofyan juga berpesan agar jurnalis muda tak hanya menguasai teknik peliputan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai moral: empati, wawasan kebangsaan, dan keberanian berkata benar di tengah tekanan.

“Jurnalis bisa jadi lentera atau api yang membakar nalar bangsa. Maka pilihlah: menjadi suara rakyat atau gema dari mereka yang membayar,” tegasnya.

Sebagai penutup pernyataannya, ia menekankan bahwa jurnalisme sejati tak pernah lepas dari fakta, keberanian, dan integritas. Di tengah dunia yang kerap gelap oleh hoaks dan manipulasi, wartawan menjadi salah satu cahaya terakhir.

“Jurnalis bukan pahlawan. Tapi saat dunia gelap, merekalah lilin pertama yang menyala,” pungkasnya.

Editor : Redaksi CYBERNUSANTARA1

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *