Anton Charliyan Mantan Kapolda Jabar Menyesalkan Penyerangan Terhadap Bung Ade Armando dan 6 Petugas oleh Para Pengunjuk Rasa di Senayan

BERITA UTAMA21 Dilihat
banner 468x60

 

Jakarta – Kapolda Metro Jaya Irjen Fadhil Imran dalam Keterangan Persnya di Polda Metro jaya didampingi Pangdam Jaya menyatakan bahwa telah terjadi Insiden Penaniayaan terhadap Tokoh Aktivis Penggiat anti Radikalisme & Intoleran, Senin (11/4/2022).

Penyerangan tersebut terjadi kepada petugas Kepolisian di Depan Gedung DPR RI Senayan jakarta Selatan serta Bung Ade Armando yang merupakan Aktivis Penggiat anti Radikalisme & Intoleran. Hal itu mengakibatkan para korban mengalami Luka Berat sehingga harus dirawat di Rumah Sakit.

Pengunjuk rasa menuntut diturunkanya Jokowi sebagai Presiden RI. Hal itu akibat Isue sepihak tentang perpanjangan jabatan 3 Periode yang sengaja digoreng oleh kelompok Oposisi yang anti Pemerintah.

Anton Charliyan Mantan Kadiv Humas Polri yang juga saat ini merupakan salah satu Tokoh Jabar Penggiat Anti Radikalisme & Intoleran turut berbicara menyatakan rasa keprihatinan yang sangat dalam dan sangat menyesalkan atas terjadinya Insiden tersebut.

Menurutnya, “Dengan kejadian itu membuktikan bahwa aksi unjuk rasa sudah tidak lagi sebagai Suara Murni Gerakan Aksi Para Mahasiswa, tetapi jelas-jelas dengan kasat mata ditunggangi oleh Para Penumpang Gelap yang memang sudah ngebet ingin segera berkuasa dengan cara Inkontitusional. Dengan menghalalkan segala cara, salah satunya mencoba memancing di Air keruh, membuat kerusuhan pada saat Aksi Demo. Pola ini merupakan pola Klasik yang dikenal dengan “Martir” yakni para pengunjuk rasa membuat kerusuhan dan menyerang Petugas,” ujarnya.

“Yang diharapkan oleh mereka, para petugas terpancing emosi dan Balik menyerang Mereka, sehingga mereka terluka. Hal itu akan menempatkan diri mereka sebagai Korban atau Playing Victim. Dengan demikian ada alasan untuk membuat kerusuhan yang lebih besar sampai terjadinya Cheos. Sebuah teknik Kotor & Licik untuk bisa menjatuhkan Pemerintah. Namun alhamdulillah sudah terbaca jauh-jauh hari sebelumnya oleh para Inteljen, sehingga hari ini mereka GAGAL untuk melakukan misi yang lebih jauh,” kata Mantan Kapolda Jabar.

“Sebuah Tactik kuno yang memang sangat efektif ini masih sering dilakukan oleh para Perusuh untuk menciptakan situasi Cheos di berbagai Negara. Jadi, apabila ada yang meninggal dalam sebuah aksi Demo hal itu memang sengaja di setting untuk mencari mati, bahkan bila perlu di eksekusi oleh kelompoknya sendiri yang menyamar sebagai Petugas yang tidak dikenal, sehingga dengan demikian akan sangat mudah untuk menyerang, menyalahkan, menyudutkan dan menjatuhkan pemerintah,” kata Anton.

“Kenapa hal ini kita sampaikan kepada publik, walaupun kami yakin Masyarakat/publik pun banyak sekali yang sudah faham akan hal ini, hanya sekedar untuk mengingatkan kembali dan mewaspadai cara-cara busuk & licik mereka, jangan sampai salah satu kerabat keluarga kita ikut-ikutan, malah nantinya jadi KORBAN “Martir” ketika ikut aksi demo,” paparnya.

“Kita harus paham, para Ambisius dan Politikus busuk sengaja menjadikan para Pendemo sebagai  “Wadal” untuk bisa mencapai & menduduki kursi Kekuasaan dengan menghalalkan segala cara,” ujarnya.

Lebih jauh Anton Charliyan menyampaikan, “Sayang, giliran para Petugas yang jadi Korban, bahkan banyak yang sampai meninggal dunia, siapa yang mau peduli dan menyuarakan penderitaan mereka,” katanya dengan nada yang sedih.

“Para petugas juga sama sebagai seorang manusia yang punya anak istri dan kekuarga. Mereka hanya menjalankan tugas yang sama-sama duduk sebagai korban Kekerasan. Tidak pernah kita saksikan Komnas HAM turun menyuarakan Petugas sebagai Korban HAM, sekalipun petugas sampai meninggal dunia,” katanya.

“Lain hal nya jika para Demonstran yang menjadi korban, suaranya pasti sampai ke ujung Dunia. Jika demikian, untuk Siapakah HAM tersebut sesungguhnya, apakah para petugas sebagai Korban tidak dianggap lagi sebagai Manusia dan dihapus HAM nya karena berstatus sebagai Petugas Negara? karena mungkin rumusan HAM yang dianggap manusia hanya para pengunjuk rasa dan tidak termasuk Petugas Negara?,” tanyanya.

“Maka dari itu, dengan Kejadian di Senayan yang entah keberapa ribu kalinya petugas menjadi korban, kiranya bisa dijadikan moment yang tepat untuk membuat Regulasi Tindakan keras dan Tegas terhadap siapapun yang menyerang Petugas Negara, baik TNI, POLRI Satpol PP dan lainnya sebagai perlindungan dan HAM bagi Petugas Negara di lapangan. Berlakukan hukum yang sekeras-kerasnya bagi pelaku kekerasan kepada petugas seperti yang sudah dilakukan oleh Negara maju seperti Eropa dan Amerika. Jika perlu, hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati bila mengakibatkan para petugas sebagai abdi Negara Gugur meninggal Dunia akibat ulah perbuatan mereka,” tegas Anton.

“Dengan demikian,  masyarakatpun akan berpikir seribu kali untuk menyerang para abdi negara yang sedang bertugas, jangan sampai menunggu para abdi negara jadi korban berikutnya, apalagi menunggu sampai ada yang gugur meninggal dunia. Karena kami yakin Tactik Martir ini akan selalu dijadikan tactik Terpaporit dalam setiap kesempatan. Bila HAM para petugas tidak terlindungi dengan Pasti secara Hukum, akan banyak sekali abdi Negara menjadi korban aksi Balas dendam mereka tanpa ada hukuman yang keras dan tegas,” kata Anton.

Saya secara Pribadi bersama rekan-rekan yang masih cinta NKRI turut Prihatin yang sedalam-dalamnya atas terjadinya Penyerangan terhadap Saudara seperjuangan kami Bung Ade Armando dan Para Abdi Negara terbaik yang terluka pada saat menjalankan tugas dilapangan. Kami mohon kepada pemerintah jangan hanya menghukum para penyerangnya saja, tapi harus nampu mengusut tuntas para aktor intelektual yang ada dibalik semua ini sampai ke akar-akarnya. 1000% pasti ada Dalang dibalik aksi yang sangat terencana yang sengaja menjual Nama Campus & Mahasiswa sebagai Covernya, karena jika dibiarkan, berpotensi untuk terus merongrong dan membuat gaduh,” ungkapnya

“Kami yakin, mereka tidak akan berhenti sampai disini saja, akan terus berjilid-jilid sampai pemerintah jatuh. Disamping itu, rasa salut kami sampaikan dan Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua petugas di lapangan baik TNI maupun POLRI, Kapolda Metro dan Pangdam Jaya, atas kedisiplinanya dan sikap kesabarannya yang tidak terpancing Emosi oleh taktik busuk mereka,” tutup Anton yang juga mantan Kapolda Jabar & Sulsel mengakhiri Pembicaraanya kepada tim redaksi.

 

(Redaksi)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *