Dari Anak Penjual Nasi Kuning Jadi Doktor Di Usia 30 Th, Gratispol Dinilai Buka Peluang Semua Kalangan Sekolah

Ragam Berita876 Dilihat
banner 468x60

BALIKPAPAN | CYBERNUSANTARA1.ID – Program Gratispol (Gratis untuk Semua Pelayanan Publik) di Kalimantan Timur dinilai bukan sekadar bantuan, melainkan jembatan emas yang membuka akses pendidikan tinggi bagi siapa saja, tanpa memandang status ekonomi secara sempit.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Indrayani, S.Pd., M.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor II Universitas Balikpapan (UNIBA), seorang pendidik dan praktisi pendidikan yang memiliki perjalanan hidup luar biasa.

“Saya ini buktinya. Dulu hidup susah, keluarga penjual nasi kuning, tapi Alhamdulillah bisa sampai menjadi Doktor di usia 30 tahun. Itu semua tidak lepas dari adanya bantuan pendidikan. Makanya saya sangat merasakan betapa pentingnya program seperti ini,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Kelebihan Gratispol: Menjangkau Lebih Luas

Menurutnya, capaian Program Gratispol saat ini sudah sangat luar biasa. Jika pada masa lalu program beasiswa seperti BKT hanya mampu menyerap sekitar 5.000 mahasiswa, kini dengan Gratispol angkanya melonjak tajam hingga mencapai 24.000 mahasiswa di hampir 52 perguruan tinggi Kalimantan Timur

“Ini pencapaian yang luar biasa. Kebijakan ini membuktikan komitmen kuat pemerintah di bidang pendidikan, meskipun dalam kondisi efisiensi anggaran, alokasi untuk pendidikan tetap dijaga,” tambahnya.

Salah satu keunggulan utama yang disoroti adalah sifat program ini yang menyeluruh.

“Kalau dulu sistemnya kompetitif dan kuotanya sedikit. Nah kalau Gratispol ini beda, mau dia terlihat mampu atau kurang mampu, asalkan syarat terpenuhi bisa dapat. Ini kelebihannya,” jelasnya.

Solusi untuk yang “Tidak Terlihat Miskin” tapi Sebenarnya Susah

Sebagai seseorang yang pernah ditugaskan melakukan verifikasi lapangan untuk beasiswa KIP, beliau memahami betul celah yang sering terjadi.

Ada kalanya seorang anak sebenarnya sangat membutuhkan bantuan, namun karena kondisi rumah orang tuanya terlihat bagus atau orang tuanya dulu pernah berada, ia justru tidak lolos seleksi. Padahal kenyataannya, saat ini kondisi ekonominya sudah berbeda dan sedang kesulitan.

“Kita kan tidak bisa melihat isi dapur atau isi rekening orang. Banyak anak yang orang tuanya dulu jaya, tapi sekarang mereka yang susah. Kalau lewat skema KIP mungkin dia tidak lolos karena dianggap ‘tidak susah betul’, tapi lewat Gratispol dia bisa lolos dan tetap bisa sekolah,” paparnya.

Oleh karena itu, Gratispol hadir menjawab tantangan tersebut. Semua anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan adalah Hak, Bukan Privilege

Bagi beliau, pendidikan tinggi bukan lagi sebuah privilege atau kemewahan yang hanya bisa dinikmati kalangan tertentu, melainkan hak bagi setiap bangsa.

“Saya selalu bilang ke mahasiswa dan anak-anak: Jadi orang susah tidak apa-apa, jangan gengsi. Akui dirimu susah, tapi ambisimu harus kuat. Pendidikan itu hak untuk semua elemen masyarakat,” tegasnya.

Beliau juga berharap program ini bisa terus berlanjut hingga tahun 2029 mendatang, sehingga mahasiswa yang sudah masuk bisa menyelesaikan studi sampai lulus tanpa terputus.

“Jangan sampai ada alasan orang berhenti sekolah hanya karena masalah ekonomi. Dengan adanya Gratispol, sekarang tidak ada lagi alasan untuk tidak kuliah,” pungkasnya.

Melaporkan dari Balikpapan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *