ISMI Jabar Gelar Muswil Ke-2, Dorong Sinergi Pelaku Usaha Kecil dengan Industri Besar

banner 468x60

 

Kota Bandung, CYBERNUSANTARA1.ID – Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Orwil Jawa Barat menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil) Jawa Barat ke-2 dan Dialog Ekonomi Syariah dengan topik “Peluang dan Tantangan Ekonomi Syariah di Era Transformasi Perdagangan serta Peran Saudagar Muslim Jawa Barat dalam mendorong tumbuhnya perekonomian syariah di Indonesia” bertempat di Hotel Savoy Homann Bandung, Rabu (11/9/2023).

Hadir Ketua Umum ISMI Jabar H. Rudy Rakian, Wakil Presiden RI Periode 2014-2019 H. Jusuf Kalla yang menjadi keynote speaker, Pengurus Yayasan DBAS (Dunia Sementara Akhirat Selamanya) Asep Ruslan yang juga Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD), Ketua Kadin Jabar H. Cucu Sutara, Ketua Kadin Kota Bandung Iwa Gartiwa, HD Sutisno, Herman Muchtar, Andri P Kartaprawira, Nina Kurnia Hikmawati, Mahpudi, H. Yaya Sunarya, Asep Saep Nurdin, RH Holil Aksan Umarzen, H. Iwa Kuswaeri, Antoni Hidayat, Migi Primerda, Gilang, dan lainnya.

Sebagai narasumber dialog hadir Rosan P Roeslani (Wakil Menteri BUMN yang juga Duta Besar RI untuk Amerika Serikat), Muhammad Farhan (Anggota DPR RI), Kasan (Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKPerdag) mewakili Menteri Perdagangan), dan H. Agung Suryamal (Dewan Pembina ISMI Orwil Jawa Barat).

Ketua Umum Ikatan Saudagar Muslim Indonesia (ISMI) Orwil Jabar, Rudy Rakian menyatakan bahwa sentuhan teknologi sudah jadi tuntutan di samping kolaborasi dengan industri guna mengoptimalkan potensi ekonomi ummat.

Hal itu dikatakan Rudy Rakian dalam Muswil Ke-2 ISMI di Bandung, Rabu (11/10/2023).

Langkah ini sejalan dengan spirit ikatan yaknj tekhnosa atau teknologi inovasi dan kewirausahaan.

“Kebutuhan teknologi itu bisa di pangan, industri, dan pertanian. Kenapa pertanian misalnya, kedodoran, karena masih kurang dalam sentuhan teknologinya. Hanya gunakan petani apa adanya, kalau modern hasilnya bisa 2 kali lipat,” kata Rudy Rakian.

Untuk itu, pihaknya berharap dengan semangat kolaborasi, persoalan tersebut bisa diatasi. Terlebih dengan persaingan global yang sepanjang tak diantisipasi bisa memberikan pengaruh signifikan dalam aktivitasnya perekonomian di dalam negeri.

Kolaborasi itu di antaranya diharapkan bisa dilakukan dengan pelaku besar. Dengan demikian, saudagar muslim pun bisa mendapatkan sejumlah nilai tambah yang bisa digunakan dalam menjawab tantangan yang tak mudah itu.

Hal itu dinilainya memungkinkan mengingat banyak industri besar yang tersebar di Jawa Barat. Hanya saja, selama ini, pelaku usaha tidak bisa berkolaborasi dengan pengusaha besar khususnya yang ada di kawasan industri.

Karena itu, pihaknya berharap pemerintah bisa melakukan mediasi dengan menjembatani aspirasi tersebut. Dari jajaran kepengurusan, pihaknya pun bakal mendorong modernisasi.

“Kalau ini tidak terjadi, ini sulit untuk melakukan transfer teknologi. Pabrik mobil dan motor misalnya, kan adanya di Jabar, itu komponennya kan ribuan, kita harapkan komponen pendukung ini bisa diberikan kepada pelaku usaha di Jabar yang siap berkolaborasi, asal ada binaan teknologi dan bimbingan,” ujarnya.

Lebih lanjut Rudy mengatakan, ada 3 agenda utama dalam acara muswil.

Diantaranya mengevaluasi kegiatan selama 5 tahun kebelakang, membuat program kerja 5 tahun kedepan, dan membenahi struktur keorganisasian.

“Secara aktifitas, alhamdulilah ISMI Jabar sudah direspon positif oleh 4 pendiri ISMI yaitu dari PBNU, Muhammadiyah, MUI, dan ICMI. Jadi alhamdulillah ormas besar ini sangat merespon bagaimana ISMI Jabar bisa berperan dalam mendorong perekonomian masyarakat mendatang,” terangnya.

Terkait usaha kedepan, lanjut Rudy, ini akan lebih berkompetisi terutama dari sisi inovasi dan tekhnologi. Terlebih semua sektor tidak lepas dari inovasi dan tekhnologi.

“Makanya ISMI mempunyai tagline tekhnosa atau tekhnologi inovasi dan kewirausahaan. Jadi bagaimana ISMI bisa memberikan masukan kepada pemrintah dan kepada umat muslim lebih berdaya saing dan membangun perekonomian masyarakat umat muslim menjadi lebih baik,” tuturnya.

Rudy pun mengatakan, ISMI Jabar ingin membuka kolaborasi dengan pemerintah terkait dunia usaha. Apalagi Jabar termasuk salah satu lokasi yang memiliki industri terbesar di indonesia.

“Namun pelaku usahanya tidak bisa berkolaborasi dengan pengusaha besar khususnya yang ada di kawasan industri. kita meminta pemerintah bagaimana bisa memediasi, sehingga lokal konten bisa berkolaborasi. kalau ini tidak terjadi ini sulit untuk transfer tekhnologi. Contoh pabrik mobil dan motor, kan adanya di Jabar, itu komponennya kan ribuan, kita harapkan komponen pendukung ini bisa diberikan kepada pelaku usaha di Jabar yang siap berkolaborasi, asal ada binaan tekhnologi dan bimbingan,” ungkapnya.

Selama ini lanjut Rudy, pihaknya sering mendengar banyak pabrik tumbuh di kawasan industri, tetapi kemiskinan dan pengangguran di wilayah tersebut justru menjadi paling banyak.

“Ini jomplang dan memprihatinkan, pengusahanya harus berkolaborasi dan bersinergi. Tanpa ada dorongan pemerintah mereka sulit berdaya saing karena mereka jalan jalan sendiri. Makanya konsen kita, ISMI sedang mencoba mensinergikan pengusaha lokal kecil dengan industri besar,” ujarnya.

Jusuf Kalla saat menjadi keynote speaker mengatakan, pihaknya mendorong saudagar muslim Indonesia untuk menanamkan semangat lebih maju demi kebangkitan umat Islam.

Ia juga menyerukan kepada pelaku usaha untuk tidak malu meniru semangat para pengusaha Tionghoa demi mengejar ketertinggalan.

Karena menurut Jusuf Kalla, untuk saat ini dibutuhkan bagaimana menanamkan semangat yang baru untuk bisa lebih maju dan lebih baik menuju kebangkitan umat.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum ISMI Pusat Ilham Akbar Habibie, memberikan sambutannya secara daring.

Ia mengatakan, agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada negara lain.

“Meski tidak bisa 100 persen, namun kita optimis Indonesia mampu dengan kemampuan internal,” pungkasnya.

 

(Nasir)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *