BANDUNG | CYBERNUSANTARA1.ID — Perkembangan cabang olahraga bela diri di Indonesia terus menunjukkan dinamika yang positif. Selain cabang yang telah populer seperti taekwondo dan muay thai, kini mulai dikenal luas olahraga savate, sebuah bela diri asal Prancis yang mengedepankan teknik, strategi, dan kontrol.
Savate mulai diperkenalkan secara masif di Indonesia melalui berbagai kegiatan edukasi dan kompetisi yang digelar oleh Federasi Savate Indonesia. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap olahraga yang dikenal sebagai French kickboxing tersebut.
Savate memiliki karakteristik unik dibandingkan bela diri lainnya, yakni penggunaan sepatu khusus (chaussons) dalam pertandingan. Teknik yang digunakan mengombinasikan pukulan dan tendangan dengan presisi tinggi, sehingga menuntut keseimbangan antara kekuatan dan kontrol.
Baca Juga Berita Ini 👇👇👇:
Teknik dan Kategori Pertandingan
Dalam praktiknya, savate terbagi dalam dua kategori utama, yaitu assaut dan combat. Kategori assaut menekankan teknik dengan kontak ringan hingga sedang, sehingga atlet dituntut mengutamakan akurasi dan strategi tanpa mencederai lawan. Sementara itu, kategori combat merupakan pertandingan dengan kontak penuh yang menggabungkan kekuatan pukulan dan tendangan secara maksimal.
Selain dua kategori tersebut, savate juga mengenal disiplin canne de combat, yaitu seni bela diri menggunakan tongkat yang mengutamakan kecepatan, kelincahan, dan estetika gerakan.
Sejarah dan Eksistensi Global
Savate memiliki sejarah panjang di Eropa dan pernah dipertandingkan dalam ajang Olimpiade Paris 1924. Hingga kini, savate terus berkembang dengan sistem kompetisi internasional yang terstruktur.
Baca Juga Berita Ini 👇👇👇:
Di kawasan Asia, eksistensi savate juga semakin meningkat. Indonesia bahkan pernah menjadi tuan rumah 5th Asian Savate Championship yang diikuti 10 negara dan ratusan atlet.
Ketua Umum Federasi Savate Indonesia, Eko Puji Raharjo, menyebut ajang tersebut sebagai momentum penting dalam memperkenalkan savate ke publik nasional.
“Kepercayaan menjadi tuan rumah kejuaraan Asia menjadi peluang besar untuk memperluas pengenalan savate di Indonesia,” ujarnya.
Pembinaan dan Pertumbuhan di Daerah
Di tingkat daerah, perkembangan savate juga menunjukkan tren positif. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah yang aktif melakukan pembinaan melalui klub, pelatihan, serta kejuaraan.

Ketua Pengcab FSI Kota Bandung, Fadlun Rauf, menyebut bahwa savate kini telah berkembang di sejumlah kabupaten/kota dan mulai diminati berbagai kalangan.
“Savate terbuka bagi siapa saja, termasuk atlet dari cabang bela diri lain karena tekniknya adaptif,” ujarnya.
Turnamen sebagai Sarana Edukasi
Sebagai bagian dari pengembangan, FSI Kota Bandung akan menggelar Open Tournament Antar Pengcab FSI Piala Wali Kota Bandung pada 26–28 Juni 2026 di kawasan KONI Kota Bandung.

Ketua pelaksana, Deny Morand, menjelaskan bahwa kejuaraan ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan pembinaan atlet.
Panitia menargetkan sekitar 200 peserta dari berbagai daerah. Rangkaian kegiatan meliputi pelatihan wasit dan juri, technical meeting, hingga pertandingan utama.
Sekretaris panitia, Toyib Usman, menambahkan bahwa sistem pendaftaran dilakukan secara fleksibel, baik daring maupun manual, untuk menjangkau lebih banyak peserta.

Prospek dan Tantangan
Meski terus berkembang, savate masih membutuhkan sosialisasi yang lebih luas agar dapat sejajar dengan cabang bela diri lainnya. Dukungan pembinaan, kompetisi berkelanjutan, serta edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama.
Ke depan, savate diharapkan dapat masuk dalam berbagai ajang multievent nasional hingga internasional, sekaligus melahirkan atlet-atlet berprestasi yang mampu bersaing di tingkat dunia.
Dengan pendekatan edukatif dan pembinaan yang konsisten, savate berpotensi menjadi salah satu cabang olahraga bela diri yang berkembang pesat di Indonesia.










