Penobatan Kepala Suku Besar Wate, Otis Monei, Menggema Penuh Semangat di Taman Gizi Oyehe Nabire

banner 468x60

Nabire, Papua Tengah, CYBERNUSANTARA1.ID — Teriakan adat ramau menggema lantang di Taman Gizi Oyehe, Rabu (19/11/2025), menandai sebuah momen penting dan bersejarah bagi masyarakat Suku Besar Wate. Di tanah leluhur yang sarat makna itu, Otis Monei, S.Sos., M.Si., resmi dinobatkan sebagai Kepala Suku Besar Wate, membawa harapan baru bagi persatuan, keamanan, dan masa depan masyarakat adat di wilayah Papua Tengah.

Taman Gizi Oyehe: Panggung Sakral Penobatan

Pemilihan lokasi penobatan bukan tanpa alasan. Taman Gizi Oyehe adalah kampung lama dan tempat peristirahatan para leluhur Wate, menyimpan nilai sejarah yang kuat bagi masyarakat suku tersebut. Ribuan warga memadati area acara untuk menyaksikan pengukuhan pemimpin adat tertinggi mereka.

Acara adat ini dihadiri tokoh-tokoh penting, di antaranya Asisten III Sekda Papua Tengah mewakili Gubernur, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Alfred Papare, Wakil Ketua IV DPRP Papua Tengah John NR. Gobai, Anggota DPRP Stela Misiro, Kapolres Nabire AKBP Samuel D. Tatiratu, Dandim 1705/Nabire Letkol Marudut Simbolon, Ketua DPRK Nabire Nancy Worabay, serta tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, dan perwakilan gereja termasuk Pendeta Leonardo Wairara.

Kehadiran Dandim 1705 Nabire juga mendapat sorotan khusus, mengingat ia sebelumnya dinobatkan sebagai “Orang Wate” oleh sesepuh suku, Daniel Mandiwa.

Rangkaian Adat Penuh Khidmat dan Kebanggaan

Penobatan dimulai dengan pengukuhan oleh 10 Tua Adat perwakilan kampung di kediaman Otis Monei di Samabusa. Setelah itu, arak-arakan adat mengiringi Otis menuju Taman Gizi Oyehe melalui jalur utama kota, dikawal barisan adat, siswa TPBI Sion Nabire, serta aparat TNI–Polri.

Sesampainya di Tugu Cenderawasih, seluruh rombongan berjalan kaki menuju lokasi penobatan, sebuah simbol penghormatan dan kerendahan diri seorang pemimpin kepada tanah leluhurnya.

Di bawah gemuruh sorak warga dan hentakan langkah barisan adat, Otis Monei dikukuhkan secara resmi sebagai Kepala Suku Besar Wate oleh Tua Afat Wate Karius Waray.

Pesan Persatuan: Nabire adalah Rumah Bersama

Dalam sambutannya, Otis Monei menegaskan bahwa jabatan yang ia emban adalah amanah besar yang harus dijalankan dengan kerendahan hati. Kemenangannya dalam pemilihan yang diikuti enam kandidat bukanlah kemenangan pribadi, melainkan kepercayaan rakyat Wate.

Ia mengajak seluruh kandidat yang sebelumnya bersaing untuk kembali bergandengan tangan.

“Saya membuka ruang sebesar-besarnya bagi para senior dan semua tokoh adat untuk memberikan masukan. Kita bangun suku Wate bersama, tanpa perbedaan,” ucapnya.

Ia juga menyerukan pesan kuat kepada seluruh warga Nabire:

“Nabire ini rumah kita bersama. Kita jaga keamanan, komunikasi, dan menolak segala bentuk begal, diskriminasi, serta tindakan yang mengganggu kamtibmas. Keamanan adalah tanggung jawab kita semua.”

Otis menegaskan komitmen Suku Wate terhadap NKRI sebagai harga mati dan kesiapan mendukung program pemerintah baik di Kabupaten Nabire maupun Provinsi Papua Tengah.

Merah Putih Berkibar di Langit Nabire

Nuansa merah putih mendominasi seluruh arena penobatan: panggung utama, tenda tamu, barisan bendera di seluruh area, hingga truk-truk yang mengangkut siswa pengiring. Ketika delapan marga Wate—Warai, Monei, Raiki, Taeamori, Hao, Hai, Wai, dan Borotai—disebutkan, mereka berdiri sambil mengangkat bendera merah putih, menciptakan pemandangan yang menggetarkan jiwa.

Simbol ini menjadi penegasan bahwa adat dan nasionalisme berjalan berdampingan, saling menguatkan dalam bingkai kebhinekaan.

Acara Sukses Besar Berkat Kerja Kolektif

Sekretaris Panitia, Daud Monei, S.I.P., menyampaikan laporan resmi terkait penyelenggaraan Musyawarah Besar Suku Wate 2025 hingga puncak penobatan. Ia menyebut bahwa kegiatan dapat berjalan sukses berkat dukungan masyarakat adat, Pemerintah Provinsi Papua Tengah, serta tokoh-tokoh masyarakat.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung. Semua rangkaian acara dari pemilihan hingga penobatan dapat terlaksana dengan baik, aman, dan penuh hikmah,” ujarnya.

Acara berjalan lancar tanpa hambatan, mengukuhkan momentum ini sebagai tonggak sejarah bagi Suku Wate.

Penobatan Otis Monei bukan hanya seremonial adat, tetapi juga simbol kebangkitan semangat baru Suku Besar Wate untuk memperkuat persatuan, menjaga adat, dan berkontribusi dalam pembangunan Nabire sebagai pusat kemajuan Papua Tengah.

Sumber : Martika Edison – Siliwangi News

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *